Kronologi Perang Mu’tah

Tentara Islam dikirim ke banu Mulawwah
Menurut riwayat, pada bulan Shafar tahun ke-8 Hijriyah, Nabi SAW mengirimkan satu pasukan dengan kekuatan belasan orang dengan dikepalai oleh Ghalib bin ‘Abdullah Al-Laitsiy ke banu Mulawwah di Kadid, yang terletak diantara ‘Usfan dan Qudaid.
Setelah sampai di Kadid pasukan muslimin ini mendadak bertemu dengan seorang kepala kaumnya yang bernama Al-Harits bin Malik Al-Laitsiy yang terkenal dengan Ibnul Barshaa’, lalu pasukan muslimin berhasil menawannya.
Setelah mereka sampai di tempat yang dituju, lalu mereka menyerbu ke tempat itu dan berhasil merampas unta-unta dan kambing mereka. Setelah kaum banu Mulawwah mengetahui bahwa pasukan muslimin hanya sedikit, lalu mereka berusaha mengadakan perlawanan dengan kekuatan yang lebih besar. Namun sebelum perlawanan mereka berlangsung, mendadak turunlah hujan lebat yang tidak disangka-sangka, yang menyebabkan air bah mengalir dengan deras di lembah itu, sehingga mereka tidak dapat lagi melalui lembah itu.
Dengan demikian maka tidak sampai terjadi pertempuran antara pasukan muslimin dan kaum banu Mulawwah, dan pasukan yang sedikit jumlahnya ini akhirnya dapat kembali ke Madinah dengan selamat dan membawa kemenangan.
Tentara Islam dikirim ke kaum banu Murrah di Fadak
Menurut riwayat, pada bulan shafar tahun ke-8 Hijriyah Nabi SAW memerintahkan shahabat Zubair bin Al-Awwam supaya berangkat memimpin satu pasukan Islam ke kabilah banu Murrah di Fadak. Sebelumnya, pada tahun ke-7 Hijriyah, satu pasukan tentara muslimin yang dipimipin Basyir bin Sa’ad sempat dikalahkan oleh kaum banu Murrah ini.
Ketika Zubair sedang berkemas akan berangkat, tiba-tiba Ghalib bin ‘Abdullah Al-Laitsiy dari Kadid datang dengan membawa kemenangan. Nabi SAW waktu itu lalu memerintahkan Ghalib supaya menggantikan Zubair mengepalai pasukan muslimin yang akan diberangkatkan tersebut.
Kemudian Ghalib berangkat mengepalai pasukan Islam sebanyak 200 orang dengan bersenjata lengkap menuju ke kabilah banu Murrah di Fadak.
Setelah sampai tujuan, pada suatu malam sebelum terjadi pertempuran, Ghalib mengumpulkan pasukannya lalu memberi pesan kepada mereka, ia berkata :
اَمَّا بَعْدُ فَاِنّى اُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَنْ تُطِيْعُوْنِى وَ لاَ تُخَالِفُوْا لِى اَمْرًا، فَاِنَّهُ لاَ رَأْيَ لِمَنْ لاَ يُطَاعَ. نور اليقين 192
Adapun sesudah itu, maka aku berpesan kepada saudara-saudara, marilah kita bertaqwa kepada Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hendaklah saudara-saudara thaat dan patuh kepadaku, dan jangan menyalahi pimpinanku, karena tidak ada pendapat bagi orang yang tidak dithaati. [Nuurul yaqiin : 192]
Kemudian Ghalib mempersaudarakan antara seorang dengan seorang yang lain diantara pasukan yang dibawah pimpinannya itu, lalu ia berkata di muka mereka, Ya Fulan, engkau saudara dengan Fulan…, ya Fulan, engkau saudara dengan Fulan ….., dan seterusnya”.
Selanjutnya ia berkata, “Janganlah seseorang diantara kamu bercerai dari kawannya, dan jauhkanlah olehmu bahwa jika seseorang dari kamu kembali, lalu saya tanyakan kepadanya, “Mana kawanmu yang telah aku persaudarakan itu”, lalu ia berkata, “Saya tidak tahu”, janganlah sampai demikian. Kemudian jika nanti aku bertakbir, maka hendaklah kalian bertakbir juga”.
Demikianlah pesan Ghalib kepada pasukannya.
Setelah tentara Islam mengepung musuh di tempat tersebut, bertakbirlah Ghalib dan diikuti pula oleh pasukannya, mereka masing-masing serentak menghunus pedang. Kemudian keluarlah pasukan musuh untuk mengadakan perlawanan, maka terjadilah pertempuran seru hingga beberapa saat. Syiar pasukan muslimin ketika itu ialah, “Amit ! Amit !”. (Binasakanlah ! Binasakanlah !).
Pertempuran berakhir dengan kemenangan tentara Islam, lalu mereka dapat merampas binatang-binatang ternak musuh. Dan dengan singkat pasukan Islam kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan yang besar, hingga tiap-tiap orang memperoleh bagian sepuluh ekor unta.
Tentara Islam dikirim ke kaum banu ‘Amir
Menurut riwayat, pada bulan Rabi’ul awwal tahun ke-8 Hijriyah Nabi SAW mengirimkan satu pasukan dengan kekuatan 24 orang, dipimpin oleh Syuja’ bin Wahab Al-Asadiy ke kabilah banu Amir, segolongan kaum dari Hawazin. Nabi SAW memerintahkan kepada pasukan ini supaya dalam perjalanan mengambil jalan yang sunyi, pada siang hari supaya menyembunyikan diri dan pada malam hari supaya berjalan.
Perintah Nabi SAW ini mereka laksanakan dengan baik, dan dengan demikian tidak sampai diketahui oleh musuh.
Setelah tentara Islam yang hanya berkekuatan 24 orang itu sampai di tujuan, mendadak segenap penduduknya melarikan diri dan meninggalkan harta serta ternak mereka. Akhirnya tentara Islam dapat merampas ternak mereka, lalu dibawa ke Madinah.
Setibanya di Madinah, lalu rampasan itu dibagi-bagikan kepada yang berhaq menerimanya, tiap-tiap orang memperoleh bagian lima belas ekor unta.
Tentara Islam dikirim ke Dzatu ‘Athlah
Menurut riwayat, pada bulan Rabi’ul awwal tahun ke-8 Hijriyah Nabi SAW mengerahkan satu pasukan tentara yang berkekuatan 15 orang dengan dipimpin oleh Ka’ab bin ‘Umair ke Dzatu ‘Athlah, termasuk wilayah negeri Syam.
Oleh karena penduduk Dzatu ‘Athlah sebelum kedatangan tentara Islam telah lebih dahulu menyuruh seorang mata-mata untuk menyelidiki keadaan tentara Islam, maka mereka mengetahui bahwa tentara Islam hanya berkekuatan 15 orang. Maka ketika tentara Islam sampai di tempat mereka, segenap penduduknya telah siap dengan senjata lengkap untuk mengadakan perlawanan. Setelah pasukan muslimin tiba, mereka segera menyerang dan mengepungnya.
Pertempuran sengit terjadi, tentara Islam yang hanya sedikit itu akhirnya mereka habisi, kecuali Ka’ab bin ‘Umair yang dapat melepaskan diri dengan menderita luka-luka, dan dengan susah payah ia kembali ke Madinah. Setiba di Madinah Ka’ab segera melaporkan segala yang terjadi di Dzatu ‘Athlah tersebut.
Setelah mendengar laporan yang menyedihkan itu, Nabi SAW bermaksud mengerahkan pasukan muslimin untuk dikirim ke Dzatu ‘Athlah, membalas kejahatan mereka. Tetapi sebelum beliau mengirim pasukannya yang kedua, mendadak beliau mendapat khabar bahwa segenap penduduk Dzatu ‘Athlah telah berpindah ke tempat lain. Oleh karena itu beliau membathalkan pengiriman pasukan tersebut.

PERANG MU’TAH
Asal mula tejadinya perang Mu’tah
Ketika Nabi SAW mengirimkan beberapa orang utusan dengan membawa surat-surat dakwah kepada para raja dan pembesar negara, diantara mereka itu ialah Amir Bushra, sedang utusan Nabi SAW yang disuruh ke sana ialah Al-Harits bin ‘Umair Al-Azdiy. Tetapi utusan Nabi SAW ini sebelum sampai ke tempat yang dituju untuk manyampaikan surat dakwah kepada orang yang harus menerimanya, tiba-tiba di tengah jalan (di Mu’tah) ia bertemu dengan Syurahbil bin ‘Amr Al-Ghassaniy, kepala daerah tersebut.
Al-Harits ditanya oleh Syurahbil, “Akan kemana kamu ?”. Al-Harits menjawab, “Saya mau ke Syam”. Syurahbil bertanya lagi, “Barangkali kamu utusan Muhammad ?”. “Ya betul”, jawab Al-Harits. Seketika itu Al-Harits ditangkap, kemudian dipenggal lehernya, sehingga Al-Harits tidak sampai bertemu dengan amir kota Bushra tersebut. [Nuurul Yaqiin : 177]
Menurut riwayat, tidak ada seorang pun dari utusan Nabi SAW yang membawa surat dakwah kepada para raja dan pembesar negara yang mati dibunuh selain Al-Harits bin ‘Umair Al-Azdiy tersebut.
Khabar kematian Al-Harits itu tentu memerlukan penyelidikan agak lama, karena tidak seorang pun dari kaum muslimin yang mengetahui tentang kematiannya. Sekalipun demikian, penyelidikan terus menerus dilakukan, dan akhirnya terungkap juga, bahwa utusan itu telah mati dibunuh oleh Syurahbil bin ‘Amr Al-Ghassaniy, seorang pembesar Mu’tah.
Setelah berita kematian shahabat Al-Harits bin ‘Umair itu sampai kepada Nabi SAW, maka Nabi SAW mengumpulkan angkatan perangnya sebanyak 3.000 orang di sebuah tempat yang bernama Jaraf, untuk dikirim ke Balqaa’ daerah Syam dengan dipimpin oleh Zaid bin Haritsah.
Persiapan tentara Islam
Bertempat di dusun Jaraf tersebut Nabi SAW mempersiapkan dan mengatur angkatan perangnya yang berkekuatan 3.000 orang, dan waktu itu shahabat yang diserahi tugas mengepalai komandonya ialah Zaid bin Haritsah. Nabi SAW bersabda :
اِنْ اُصِيْبَ زَيْدٌ فَجَعْفَرُ بْنُ اَبِى طَالِبٍ عَلَى النَّاسِ، فَاِنْ اُصِيْبَ جَعْفَرٌ فَعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ عَلَى النَّاسِ. البداية و النهاية4: 632
Jika Zaid tewas, maka Ja’far bin Abu Thalib untuk memegang komando angkatan perang, dan jika Ja’far tewas, maka ‘Abdullah bin Rawahah untuk memegang komando angkatan perang.
Demikianlah Nabi SAW bersabda sebagai amanat kepada mereka, agar dimengerti oleh segenap pasukan.
Menurut riwayat, yang lain wasiat tersebut demikian :
زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ اَمِيْرُ النَّاسِ. فَاِنْ قُتِلَ زَيْدٌ فَجَعْفَرُ بْنُ اَبِى طَالِبٍ، فَاِنْ قُتِلَ جَعْفَرٌ فَعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ، فَاِنْ قُتِلَ عَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَلْيَرْتَضِ اْلمُسْلِمُوْنَ بَيْنَهُمْ رَجُلاً فَلْيَجْعَلُوْهُ عَلَيْهِمْ. البداية و النهاية4: 632
Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pasukan, jika Zaid terbunuh, lalu digantikan oleh Ja’far bin Abu Thalib, Jika Ja’far terbunuh, lalu digantikan oleh ‘Abdullah bin Rawahah, dan jika ‘Abdullah bin Rawahah tewas, maka hendaklah kaum muslimin memilih seseorang diantara mereka, lalu menjadikannya sebagai pemimpin mereka. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 4, hal. 632]
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi SAW memberikan amanat seperti itu, didengar oleh seorang Yahudi yang kebetulan ada di dekat tempat itu, yaitu Nu’man bin Fanhash. Setelah mendengar pesan-pesan Nabi SAW itu, lalu ia menghampiri beliau seraya berkata, “Ya Abal Qasim, jika engkau menyebutkan nama-nama orang, baik sedikit maupun banyak, jika engkau seorang yang benar-benar Nabi, maka niscaya mereka itu akan mati terbunuh. Karena para nabi Banu Israil jika menyerahkan pimpinan angkatan perangnya kepada seseorang dari tentaranya dengan mengatakan : Jika si fulan itu tewas maka si fulanlah yang menggantikannya, maka orang yang disebut namanya itu tentu tewas terbunuh oleh pihak lawannya. Jika kiranya yang disebut itu ada seratus orang, tentulah mereka itu tewas semuanya”. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 4, hal. 632]
Perkatan orang Yahudi ini oleh Nabi SAW dibiarkan saja, tidak dijawab sepatah katapun. Orang Yahudi itu lalu berkata kepada Zaid bin Haritsah, “Aku memperingatkanmu, sesungguhnya kamu tidak akan kembali selamanya, jika Muhammad itu memang seorang Nabi”.
Mendengar perkataan orang Yahudi itu lalu Zaid berkata :
اَشْهَدُ اَنَّهُ نَبِيٌّ صَادِقٌ بَارٌّ. البداية و النهاية 4: 633
Saya bersaksi, bahwa sesungguhnya beliau itu seorang Nabi yang benar lagi baik. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 4, hal. 633]
Pada waktu itu Nabi SAW lalu menyerahkan bendera Islam kepada Zaid bin Haritsah. Di samping itu Nabi SAW lalu berpesan kepada mereka, apabila mereka telah sampai di Mu’tah hendaklah mencari tempat terbunuhnya Al-Harits bin ‘Umair Al-Azdiy dahulu, Kemudian Nabi SAW berpesan kepada mereka, bahwa apabila mereka telah sampai di tempat yang dituju supaya menyampaikan dakwah Islam kepada penduduknya terlebih dahulu, kalau-kalau mereka itu suka mengikuti Islam, dan jika menolak dengan kekerasan, supaya mereka itu diperangi, dan hendaklah mereka (pasukan muslimin) memohon pertolongan kepada Allah untuk mengalahkan mereka.
Keberangkatan tentara Islam ke Mu’tah
Pasukan Islam sebanyak 3.000 orang setelah bersiap siaga dengan senjata perang, lalu Nabi SAW memerintahkan supaya berangkat dari Jaraf (tempat mereka berkumpul) menuju Mu’tah. Perintah Nabi SAW itu mereka thaati, dan mereka serentak berangkat dengan diantar oleh Nabi SAW sampai di luar kota Madinah, Nabi SAW berhenti sebentar, dan segenap tentara Islam berhenti juga, lalu beliau berpesan di depan mereka :
اُغْزُوْا بِاسْمِ اللهِ فَقَاتِلُوْا عَدُوَّ اللهِ وَ عَدُوَّكُمْ بِالشَّامِ. وَ سَتَجِدُوْنَ فِيْهَا رِجَالاً فِى الصَّوَامِعِ مُعْتَزِلِيْنَ فَلاَ تَتَعَرَّضُوْا لَهُمْ وَ لاَ تَقْتُلُوا امْرَأَةً وَ لاَ صَغِيْرًا وَ لاَ بَصِيْرًا فَانِيًا، وَ لاَ تَقْطَعُوْا شَجَرًا وَ لاَ تَهْدِمُوْا بِنَاءً. نور اليقين 193
Berperanglah kalian dengan nama Allah, perangilah musuh Allah dan musuh kalian di Syam. Kamu sekalian akan mendapai di sana orang-orang yang beribadah di gereja-gereja, maka janganlah kalian mengganggu mereka, janganlah kalian membunuh wanita, anak kecil, orang tua yang pandangannya sudah kabur, janganlah kalian menebangi pohon-pohon dan jangan merusakkan bangunan-bangunan. [Nuurul Yaqiin : 193
Setelah Nabi SAW menyampaikan pesan-pesan tersebut, beliau lalu memerintahkan supaya tentara muslimin melanjutkan perjalanannya ke Mu’tah. Lalu mereka meminta diri kepada segenap muslimin yang turut menghantarkan di tempat tersebut, kemudian beliau berserta kaum muslimin mengucapkan :
صَحِبَكُمُ اللهُ وَ دَفَعَ عَنْكُمْ وَ رَدَّكُمْ اِلَيْنَا صَالِحِيْنَ. البداية و النهاية 4: 633
Mudah-mudahan Allah menyertai kalian dan menolak dari kalian segala marabahaya dan mengembalikan kalian kepada kami dalam keadaan baik. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 4, hal. 633]
Lalu Nabi SAW beserta kaum muslimin yang mengantar itu kembali ke Madinah.

 

 

Keberangkatan pasukan Islam ke Mu’tah (lanjutan)
Ibnu Ishaq berkata : Rasulullah SAW bersama beberapa shahabatnya mengucapkan selamat jalan kepada semua pasukan dan para komandan mereka ketika akan meninggalkan Madinah. Pada saat itu ‘Abdullah bin Rawahah menangis tersedu-sedu. Orang-orang kemudian bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu menangis ?”. Ia menjawab, “Demi Allah, bukan karena saya cinta dunia, juga bukan karena perpisahan dengan kalian, tetapi aku pernah mendengar Rasulullah SAW membaca salah satu ayat Al-Qur’an yang menyebutkan neraka :
وَ اِنْ مّنْكُمْ اِلاَّ وَارِدُهَا كَانَ عَلى رَبّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا. مريم:71
Dan tidak ada seorang pun diantaramu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabb-mu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan. [QS. Maryam : 71]
Aku tidak tahu, apakah aku akan kembali setelah mendatanginya ?.
Ketika pasukan itu berangkat, kaum muslimin mengucapkan doa, “Semoga Allah menyertai kalian, melindungi kalian dari marabahaya, dan mengembalikan kalian pulang dalam keadaan baik-baik”. Kemudian ‘Abdullah bin Rawahah mengatakan :
لكِنّى اَسْأَلُ الرَّحْمنَ مَغْفِرَةً وَ ضَرْبَةً ذَاتَ فَرْغٍ تَقْذِفُ الزَّبَدَا
اَوْ طَعْنَةً بِيَدَى حَرَّانَ مُجْهِزَةً بِحَرْبَةٍ تَنْفُذُ اْلاَحْشَاءَ وَ اْلكَبِدَا
حَتَّى يُقَالَ اِذَا مَرُّوْا عَلَى جَدَثِى اَرْشَدَهُ اللهُ مَنْ غَازٍ وَ قَدْ رَشَدَا
Tetapi aku memohon ampun kepada Ar-Rahmaan,
dan kesempatan tebasan pedang yang mengalirkan darah,
atau lemparan tombak yang sangat halus lagi cepat,
yang menembus perut dan hati,
agar orang yang melewati quburku berdoa,
Semoga Allah melimpahkan petunjuk dan
karunia-Nya kepada orang yang telah berperang [Ibnu Hisyam 5 : 23]
Persiapan tentara Romawi
Menurut riwayat bahwa setelah tentara muslimin keluar dari Madinah beritanya didengar oleh Syurahbil, wakil Hiraklius di Syam, bahwa tentara Islam telah berangkat akan menyerang Bushra dengan bersenjata lengkap. Maka dengan cepat Syurahbil menyampaikan berita itu kepada Hiraklius raja Romawi meminta bantuan angkatan perang yang besar untuk menghadapi serangan tentara Islam tersebut.
Kemudian Hiraklius segera mengumpulkan tentaranya sejumlah 100.000 orang. Dan ketika itu kerajaan Romawi mengadakan persekutuan dengan kabilah-kabilah ‘Arab yang berdekatan dengan Syam yang masih memusuhi Islam. Maka merekapun mengumpulkan tentara 100.000 orang juga. Dengan demikian semuanya berjumlah 200.000 orang.
Adapun kabilah-kabilah ‘Arab yang membantu kerajaan Romawi ketika itu ialah dari suku Lakham, Judzam, Al-Qain, Bahraa’ dan Baliy. Kerajaan Romawi juga mempersenjatai pasukannya dengan alat-alat perang yang serba lengkap.
Permusyawaratan para pemimpin Islam
Pasukan Islam ketika sampai di suatu tempat yang bernama Ma’an wilayah Syam, mereka berhenti untuk bermusyawarah. Dan telah sampai berita kepada mereka bahwa raja Hiraklius telah tiba di Ma’aab daerah Balqaa’ wilayah Syam dengan membawa tentara Romawi sebanyak 100.000 orang ditambah lagi dengan tentara dari kabilah-kabilah ‘Arab sebanyak 100.000 orang juga, sehingga jumlahnya dua ratus ribu orang, dengan persenjataan yang lengkap. Dua hari-dua malam para komandan tentara Islam bermusyawarah untuk memecahkan masalah yang amat sulit dan berat itu.
Dalam musyawarah itu diantara mereka ada yang berpendapat bahwa berhubung angkatan perang yang dihadapi begitu besar, maka lebih baik mengirim surat lebih dulu kepada Nabi SAW dengan mengatakan bahwa kekuatan angkatan perang yang dihadapi begitu besar, lalu menunggu bagaimana sikap beliau. Apakah beliau akan mengirim bantuan tentara atau menyuruh kembali, atau memerintahkan supaya terus maju melawan musuh.
Pendapat yang demikian itu pada mulanya diterima oleh sebagian besar dari mereka, tetapi kemudian shahabat ‘Abdullah bin Rawahah berbicara, mengeluarkan pendapatnya, membakar semangat pasukan Islam, ia berkata :
يَا قَوْمِ، وَ اللهِ، اِنَّ الَّتِى تَكْرَهُوْنَ لَلَّتِى خَرَجْتُمْ تَطْلُبُوْنَ اَلشَّهَادَةَ وَ مَا نُقَاتِلُ النَّاسَ بِعُدَدٍ وَ لاَ قُوَّةٍ وَ لاَ كَثْرَةٍ، مَا نُقَاتِلُهُمْ اِلاَّ بِهذَا الدّيْنِ الَّذِى اَكْرَمَنَا اللهُ بِهِ فَانْطَلِقُوْا، فَاِنَّمَا هِيَ اِحْدَى اْلحُسْنَيَيْنِ: اِمَّا ظُهُوْرٌ وَ اِمَّا شَهَادَةٌ. ابن هشام 5: 24
Wahai kaumku, demi Allah, sesungguhnya yang saudara-saudara benci itulah yang saudara-saudara telah keluar mencarinya, yaitu mati syahid. Kita memerangi musuh itu bukan karena adanya alat yang lengkap, bukan karena adanya kekuatan yang besar dan bukan pula karena tentara yang banyak. Dan kita tidak memerangi musuh melainkan karena agama ini, yang Allah telah memuliakan kita dengannya. Oleh sebab itu, berangkatlah kalian, maju terus untuk mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, menang atau mati syahid. [Ibnu Hisyam : 5 : 24]
Demikianlah ‘Abdullah bin Rawahah, dengan ucapannya yang bersemangat, maka akhirnya segenap pasukan Islam serentak dengan suara bulat membenarkannya. Mereka berkata :
قَدْ وَ اللهِ صَدَقَ ابْنُ رَوَاحَةَ
Demi Allah, sungguh benar (perkataan) Ibnu Rawahah. [Ibnu Hisyam 5 : 24]
Kemudian pasukan muslimin melanjutkan perjalanan. Dan dengan tekad bulat mereka meninggalkan Ma’an menuju Balqaa’.
Kedatangan tentara Islam di Mu’tah
Dari kota Ma’an pasukan muslimin terus berjalan menuju perbatasan kota Balqaa’, tetapi baru sampai di Masyarif, sebuah kampung yang terletak di perbatasan Balqaa’ mereka melihat barisan tentara Hiraklius dari Romawi dan kabilah-kabilah ‘Arab yang besar itu, padahal yang terlihat itu baru sebagian kecil, belum semuanya. Lalu pasukan Islam membelok ke suatu tempat yang bernama Mu’tah. Karena di tempat inilah yang dipandang oleh pasukan muslimin lebih baik dan lebih tepat jika dipergunakan untuk pertahanan daripada di Masyarif. Di tempat inilah mereka lalu mendirikan kemah-kemah dan membuat pertahanan.
Ketika itu tentara musuh sudah lebih dahulu mengatur barisan mereka dan telah membuat pertahanannya dengan segala perlengkapan mereka.
Pada waktu itu segenap tentara Islam merasakan suatu ujian besar yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Aqidah dan kekuatan iman mereka benar-benar sedang diuji oleh Allah. Tentara muslimin hanya berjumlah 30.000 orang, dengan persenjataan yang serba terbatas menghadapi musuh 200.000 orang dengan bersenjata lengkap. Kalau akan meminta bantuan dari pusat amat sukar dan kedatangan bantuan itu pun sangat sulit, mengingat jarak antara mereka dengan Madinah sangat jauh.
Pasukan muslimin pada waktu itu penuh tauhid dan tawakkal di dadanya, tidak merasa takut sedikitpun dan tidak pula ragu-ragu menghadapi pasukan yang berjumlah besar itu. Mereka penuh percaya kepada kebesaran dan kekuasaan Allah seru sekalian alam, penuh percaya akan pertolongan Allah, walaupun harus ditempuh dengan pengorbanan dahulu.
Mereka masing-masing tetap berpendirian sebagaimana ucapan ‘Abdullah bin Rawahah semula : Menang atau mati Syahid.
Perang berlangsung dengan hebat
Karena segenap pasukan muslimin bertekad bulat menghadapi lawan yang amat besar jumlahnya itu, maka setelah mereka berhadapan dengan musuh, tidak lama kemudian terjadilah pertempuran seru antara kedua belah pihak.
Panglima Zaid bin Haritsah dengan membawa bendera Islam dan dengan penuh tauhid dalam dadanya terus maju, menyerbu, memberi komando pasukannya, membelah barisan tentara musuh. Ia yaqin, bahwa mati dalam pertempuran seperti itu adalah mati syahid, mati dalam kesucian dan itulah kemenangan yang sebesar-besarnya.
Oleh sebab itu, maka segenap tentara Islam pada waktu itu pun bertempur dengan hebatnya, karena melihat panglima mereka Zaid bin Haritsah terus maju membelah dan menyerbu barisan musuh, menggempur dan menyerang tentara lawan dengan hebat. Dan barisan musuh waktu itu tidak sedikit yang mati bergelimpangan.
Setelah Zaid bin Haritsah membunuh beberapa tentara musuh, akhirnya iapun terbunuh terkena tombak musuh hingga mati syahid.
Setelah melihat Zaid bin Haritsah terbunuh, lalu Ja’far bin Abu Thalib yang sudah diberi amanat oleh Nabi SAW dengan cepat mengambil alih bendera itu, kemudian dengan sendirinya ia menggantikan kedudukan Zaid bin Haritsah memegang komando perang, dan terus menyerbu dan membelah barisan musuh, dengan berkuda ia terus menyerang, mengayunkan pedang, memenggal leher musuh yang di depannya.
Melihat kegagahan dan keberanian Ja’far itu, pihak musuh lalu mengepungnya, hingga ia dan kudanya terkurung. Dengan cepat Ja’far meloncat dari kudanya dan meneruskan pertempuran di atas tanah yang berdebu.
Ia terus memimpin pertempuran seraya bersyair :
يَا حَبَّذَا اْلجَنَّةُ وَ اقْتِرَابُهَا طَيّبَةً وَ بَارِدًا شَرَابُهَا
وَ الرُّوْمُ قَدْ دَنَا عَذَابُهَا كَافِرَةٌ بَعِيْدَةٌ اَنْسَابُهَا
عَلَيَّ اِذَا لاَقَيْتُهَا ضِرَابُهَا
Alangkah dekatnya surga,
harumnya semerbak dan segar minumannya,
orang-orang Romawi telah dekat siksanya,
yang kafir yang jauh nasabnya,
bila aku bertemu, wajib atasku memeranginya. [Ibnu Hisyam 5 : 28]
Setelah pertempuran berjalan beberapa saat, salah seorang tentara musuh dapat memotong tangan kanannya hingga putus. Sekalipun demikian, Ja’far tetap meneruskan pertempurannya dengan sengit, bendera Islam yang tadinya ada di tangan kanannya dengan cepat dipegang dengan tangan kirinya, dan ia terus maju menyerang musuh.
Beberapa saat kemudian, tangan kiri Ja’far yang memegang bendera Islam itu terkena pedang hingga putus, maka tidak kunjung padam, bendera Islam itu segera ia peluk dan diapitnya dengan dua ujung lengannya, sambil tetap mengomando tentara Islam untuk menyerbu musuh. Akhirnya musuh dapat membunuh Ja’far dengan ganas dan kejam. Seorang tentara musuh dapat menebas tubuh Ja’far hingga menjadi dua, dan Ja’far menemui syahid.
Ibnu Hisyam meriwayatkan sebagai berikut :
اِنَّ جَعْفَرَ بْنَ اَبِى طَالِبٍ اَخَذَ اللّوَاءَ بِيَمِيْنِهِ فَقُطِعَتْ، فَاَخَذَهُ بِشِمَالِهِ فَقُطِعَتْ، فَاحْتَضَنَهُ بِعَضُدَيْهِ حَتَّى قُتِلَ رض وَ هُوَ ابْنُ ثَلاَثٍ وَ ثَلاَثِيْنَ سَنَةً، فَاَثَابَهُ اللهُ بِذلِكَ جَنَاحَيْنِ فِى اْلجَنَّةِ يَطِيْرُ بِهِمَا حَيْثُ شَاءَ. وَ يُقَالُ اِنَّ رَجُلاً مِنَ الرُّوْمِ ضَرَبَهُ يَوْمَئِذٍ ضَرْبَةً فَقَطَعَهُ بِنِصْفَيْنِ. ابن هشام 5: 28
Sesungguhnya Ja’far bin Abu Thalib membawa bendera dengan tangan kanannya, lalu terputuslah tangan kanan tersebut, kemudian ia membawanya dengan tangan kirinya, lalu terputuslah tangan kirinya tersebut, kemudian ia mengapitnya dengan kedua lengannya, sehingga beliau RA terbunuh. Waktu itu dia berumur 33 tahun, kemudian Allah menggantinya dengan dua sayap di surga yang dengannya ia bisa terbang kemana saja ia kehendaki. Dan dikatakan bahwa ada seorang laki-laki dari Romawi pada waktu itu menebasnya dengan pedang sehingga menjadi dua. [Ibnu Hisyam 5 : 28]
Kemudian ‘Abdullah bin Rawahah dengan cepat meloncat mengambil alih bendera Islam yang dibawa oleh Ja’far bin Abu Thalib. Seketika itu juga ia menggantikan kedudukan Ja’far bin Abu Thalib sebagai panglima pasukan Islam.
Setelah bendera Islam berada di tangannya, maka dengan gagah perkasa ia mengomandokan pasukan muslimin supaya terus bertempur, terus melawan dan menyerang musuh. Memang sebelum Ja’far gugur, ia telah menyiapkan diri untuk memimpin dan mengomando, karena ia selalu ingat amanat Nabi SAW. Dengan berkuda ia terus memimpin pasukan muslimin menyerbu dan menyerang musuh.
Melihat pasukan musuh yang begitu besar bertempur seru dengan pasukan muslimin itu, mendadak hati ‘Abdullah bin Rawahah merasa ragu-ragu untuk meneruskan pertempuran, tetapi kemudian dihempaskannya sambil bersyair :
اَقْسَمْتُ يَا نَفْسُ لَتَنْزِلِنَّهْ، لَتَنْزِلِنَّ اَوْ لَتَكْرَهِنَّهْ
اِنْ اَجْلَبَ النَّاسُ وَشَدُّوا الرَّنَّهْ، مَا لىِ اَرَاكِ تَكْرَهِيْنَ اْلجَنَّهْ
قَدْ طَالَ مَا قَدْ كُنْتِ مُطْمَئِنَّهْ، هَلْ اَنْتِ اِلاَّ نُطْفَةٌ فِى شَنَّهْ
Aku telah bersumpah hai diriku,
sungguh engkau akan turun,
pasti engkau akan turun menyerbu,
walau engkau membencinya,
Jika orang-orang telah menyerbu,
dan mereka telah mengeraskan suara gaungnya,
mengapa aku melihatmu membenci surga ?
Sesungguhnya engkau telah lama dalam keadaan tenang dan tenteram,
padahal engkau tidak lain hanyalah setetes air nutfah,
di dalam sebuah gereba yang usang.
Lalu ia bersyair lagi :
يَا نَفْسُ اِلاَّ تُقْتَلِى تَمُوْتِى هذَا حِمَامُ اْلمَوْتِ قَدْ صَلِيْتِ
وَ مَا تَمَنَّيْتِ فَقَدْ اُعْطِيْتِ اِنْ تَفْعَلِى فِعْلَهُمَا هُدِيْتِ
Hai diriku, jika engkau tidak mati dibunuh, engkau toh akan mati,
inilah waktu kematian sungguh telah sampai kepadamu,
dan apa yang telah engkau cita-citakan itu,
kini sungguh telah diberikan kepadamu,
jika engkau berbuat seperti perbuatan mereka berdua (Zaid dan Ja’far),
pastilah engkau terpimpin. [Ibnu Hisyam 5 : 29]
Di lain riwayat ada tambahannya yang berbunyi :
وَ اِنْ تَأَخَّرْتِ فَقَدْ شَقِيْتِ. سير اعلام النبلاء، السيرة النبوية 2: 122
Dan jika engkau mundur, maka sungguh celakalah engkau. [Siyaru a’laamin-nubalaa’, siirah nabawiyah 2 : 122]
Setelah itupun ia turun dari kudanya, dan dengan pedangnya bertempur terus dengan gagah perkasa, hingga banyak musuh yang tersambar pedangnya.
Pasukan muslimin pun dengan semangat yang tak kunjung padam terus menyerang musuh dengan hebat dan dahsyatnya.
Setelah melihat gerak langkah ‘Abdullah bin Rawahah yang hebat itu, lalu tentara musuh mengadakan pengepungan terhadapnya, dan akhirnya ia pun terbunuh hingga menemui syahid.

Khalid bin Walid sebagai Panglima Perang
Setelah gugurnya ketiga panglima perang yang ditunjuk oleh Nabi SAW, yaitu Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib dan ‘Abdullah bin Rawahah secara berturut-turut, sebelum angkatan perang kaum muslimin sempat memilih pimpinan yang baru sebagai pengganti ‘Abdullah bin Rawahah, dengan cepat bendera Islam diambil oleh salah satu tentara Islam yang bernama Tsabit bin Arqam Al-Anshariy.
Kemudian, komando perang dipegang oleh Tsabit, walau ia bukan panglima yang ditunjuk oleh Nabi, namun merasa berkewajiban memimpin untuk sementara, mengingat keadaan pertempuran sedang memuncak dengan hebat dan dahsyat, maka pertempuran diteruskan, dan segenap tentara muslimin thaat kepada Tsabit, walau belum ditetapkan secara resmi sebagai panglima.
Beberapa saat kemudian Tsabit bin Arqam berseru kepada kawan-kawannya, “Hai saudara-saudara, pilihlah seorang diantara kalian sebagai pemimpin untuk melanjutkan pertempuran !”. Segenap pasukan muslimin berkata, “Engkau saja, kami rela engkau sebagai pemimpin kami”. Tsabit menjawab, “Saya tidak sanggup !”.
Khalid bin Walid ketika itu ikut menjadi anggota angkatan perang muslimin, walaupun ia belum lama masuk Islam, maka akhirnya Khalid bin Walid terpilih untuk memimpin dan menjadi panglima perang. Mereka menunjuknya karena Khalid seorang bangsawan Quraisy yang terkenal ahli siasat perang, semenjak ia masih menjadi musuh Islam.
Kemudian Khalid bin Walid mengatur tentara Islam dengan baik, ia begerak maju ke muka dan memberi komando kepada segenap tentaranya supaya maju terus dan bertempur menyerang musuh dengan sekuat-kuatnya. Dengan komandonya itu, tentara Islam lalu begerak maju lagi, menyerang dan menyerbu musuh.
Setelah beberapa waktu pertempuran berlangsung dan belum ada tanda-tanda salah satu pihak yang menang atau kalah, Khalid bin Walid lalu mengatur pasukannya begitu rupa untuk menakut-nakuti tentara musuh yang besar itu.
Pada suatu malam Khalid mengatur susunan pasukannya untuk menyiasati lawan, satu pasukan supaya pergi ke ujung bagian pasukannya, kemudian pasukan itu diberi tugas, apabila pagi telah mulai terang, mereka supaya mengeluarkan suara ramai, yang bisa terdengar seolah-olah tentara bantuan baru datang.
Kemudian barisan angkatan perang dirubah dengan diperpanjang, agar pada pagi hari kelihatan oleh musuh bahwa pasukan Islam bertambah banyak kekuatannya.
Menjelang pagi hari, terdengarlah suara-suara ramai dan ribut di bagian ujung yang agak jauh tempatnya dari tentara Islam, suaranya bagaikan barisan tentara bantuan yang baru datang. Kemudian pada saat itu juga Khalid bin Walid menyusun dan mengatur tentara. Barisan tentara yang ada di muka diputar ke belakang, dan tentara yang di belakang di putar ke muka, begitu pula yang di sebelah kiri dipindah ke kanan dan sebaliknya.
Dengan taktik dan siasat yang demikian itu tentara musuh mengira bahwa bantuan tentara Islam telah datang dari Madinah. Perkiraan mereka, kalau kemarin dan hari yang lewat, jumlah mereka yang hanya tiga ribu saja sudah sanggup bertempur dan berperang begitu hebat dan dahsyat, apalagi kalau sudah mendapat bantuan yang begitu banyak.
Dengan persangkaan yang demikian itu, maka tumbuhlah perasaan takut di pihak tentara Romawi yang begitu besar jumlahnya itu, maka dengan cepat mereka terburu-buru mengundurkan diri, tidak berani meneruskan pertempuran.
Beberapa saat kemudian, setelah angkatan perang Romawi itu kelihatan mundur jauh dari garis pertahanannya, maka angkatan perang muslimin disiapkan juga untuk mengatur barisan mundur dan kembali ke Madinah. Begitulah akhirnya pasukan muslimin meninggalkan Mu’tah dan kembali ke Madinah.
Dengan demikian selesailah peperangan Mu’tah yang hebat dan dahsyat itu, dan menurut riwayat pertempuran di Mu’tah itu terjadi pada bulan Jumadil ula tahun ke-8 Hijriyah.
Tentara Islam yang gugur di Mu’tah :
Menurut Ibnu Hisyam nama-nama shahabat yang gugur dalam perang Mu’tah adalah : Ja’far bin Abu Thalib RA, Zaid bin Haritsah RA, Mas’ud bin Al-Aswad, Wahab bin Sa’ad, ‘Abdullah bin Rawahah, ‘Abbad bin Qais, Al-Harits bin Nu’man, Suraqah bin ‘Amr, Abu Kulaib bin ‘Amr, Jabir bin ‘Amr, ‘Amr bin Sa’ad dan ‘Amir bin Sa’ad. [Ibnu Hisyam 5 : 41]
Pernyataan Nabi Muhammad SAW terhadap perang Mu’tah
Sekalipun Nabi SAW tidak ikut berangkat ke medan perang Mu’tah, tetapi segala sesuatu yang terjadi dan dialami oleh angkatan perang kaum muslimin selama dalam pertempuran di Mu’tah itu benar-benar beliau ketahui.
Pada suatu hari ketika terjadi pertempuran di Mu’tah Nabi SAW bersabda kepada orang banyak di Madinah :
اَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ فَقَاتَلَ بِهَا حَتَّى قُتِلَ شَهِيْدًا، ثُمَّ اَخَذَهَا جَعْفَرٌ فَقَاتَلَ بِهَا حَتَّى قُتِلَ شَهِيْدًا
Bendera dipegang oleh Zaid bin Haritsah, lalu ia bertempur dengan membawanya sehingga ia gugur sebagai syahid, kemudian bendera dipegang oleh Ja’far, lalu ia bertempur dengan membawanya sehingga ia pun gugur sebagai syahid.
Kemudian Nabi SAW diam, sehingga berubahlah wajah orang-orang Anshar, mereka menyangka kalau-kalau ada sesuatu yang terjadi pada ‘Abdullah bin Rawahah. Tetapi kemudian Nabi SAW bersabda lagi :
ثُمَّ اَخَذَهَا عَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَقَاتَلَ بِهَا حَتَّى قُتِلَ شَهِيْدًا
Kemudian bendera diambil oleh ‘Abdullah bin Rawahah, lalu ia bertempur dengan membawanya sehingga ia gugur pula sebagai syahid. [Ibnu Hisyam 5 : 30]
Nabi SAW bersabda pula :
لَقَدْ رُفِعُوْا اِلَيَّ فِى اْلجَنَّةِ فِيْمَا يَرَى النَّائِمُ عَلَى سُرُرٍ مِنْ ذَهَبٍ فَرَأَيْتُ فِى سَرِيْرِ عَبْدِ اللهِ بْنِ رَوَاحَةَ اِزْوِرَارًا عَنْ سَرِيْرَيْ صَاحِبَيْهِ. فَقُلْتُ: عَمَّ هذَا؟ فَقِيْلَ لِيْ: مَضَيَا وَ تَرَدَّدَ عَبْدُ اللهِ بَعْضَ التَّرَدُّدِ، ثُمَّ مَضَى. ابن هشام 5: 30
Sesungguhnya mereka itu telah diangkat (diperlihatkan) kepadaku di surga, seperti mimpi bahwa mereka itu berada di atas tempat tidur dari emas, lalu aku melihat pada tempat tidur ‘Abdullah bin Rawahah agak sedikit miring daripada dua tempat tidur kedua kawannya. Lalu aku bertanya, “Kenapa ini ?”. Lalu dikatakan kepadaku, “Mereka berdua maju terus, tetapi ‘Abdullah ada kebimbangan sedikit, kemudian ia pun maju terus”. [Ibnu Hisyam 5 : 30]
Bukhari meriwayatkan sebagai berikut :
عَنْ اَنَسٍ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص نَعَى زَيْدًا وَ جَعْفَرًا وَ ابْنَ رَوَاحَةَ لِلنَّاسِ قَبْلَ اَنْ يَأْتِيَهُمْ خَبَرُهُمْ فَقَالَ: اَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيْبَ ثُمَّ اَخَذَ جَعْفَرٌ فَأُصِيْبَ ثُمَّ اَخَذَ ابْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيْبَ وَ عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ حَتَّى اَخَذَ الرَّايَةَ سَيْفٌ مِنْ سُيُوْفِ اللهِ حَتَّى فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِمْ. البخارى 5: 87
Dari Anas RA, bahwasanya Nabi SAW memberitahukan kematian Zaid, Ja’far dan Ibnu Rawahah kepada orang-orang sebelum beritanya sampai kepada mereka. Beliau bersabda, “Bendera dipegang oleh Zaid, lalu ia terbunuh. Kemudian dipegang oleh Ja’far, ia terbunuh. Selanjutnya dipegang oleh Ibnu Rawahah, lalu ia terbunuh, (kedua mata beliau meneteskan air mata), sehingga bendera itu dipegang oleh seorang pedang dari pedang-pedang Allah, hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan atas mereka”. [HR. Bukhari 5 : 87]
Berhubung Nabi SAW benar-benar mengetahui betapa berat penderitaan yang ditanggung oleh angkatan perangnya di Mu’tah karena menghadapi perlawanan musuh yang berlipat ganda, maka ketika mereka telah kembali dan akan tiba di Madinah beliau bersama kaum muslimin yang tidak ikut berangkat berperang menyambut dengan meriah di dekat kota Madinah. Dan ketika Nabi SAW mendengar suara-suara ejekan dari sebagian kaum muslimin yang tidak ikut berperang di Mu’tah terhadap saudara-saudara mereka yang baru datang dari Mu’tah yang dianggapnya tidak memperoleh kemenangan dan dikira melarikan diri dari peperangan dengan mengatakan :
يَا فُرَّارُ! فَرَرْتُمْ فِى سَبِيْلِ اللهِ!
Hai orang-orang yang lari, kalian lari dari jalan Allah !
Maka beliau bersabda :
لَيْسُوْا بِاْلفُرَّارِ وَ لكِنَّهُمُ اْلكُرَّارُ اِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى. ابن هشام 5: 33
Mereka itu bukan orang-orang yang lari sebagai pengecut, tetapi mereka itu akan kembali menyerang, insya Allah Ta’ala. [Ibnu Hisyam 5 : 33]
Beberapa riwayat sehubungan dengan gugurnya Ja’far bin Abu Thalib :
عَنْ عَائِشَةَ رض تَقُوْلُ لَمَّا جَاءَ قَتْلُ ابْنِ حَارِثَةَ وَ جَعْفَرِ بْنِ اَبِى طَالِبٍ وَ عَبْدِ اللهِ بْنِ رَوَاحَةَ رض: جَلَسَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُعْرَفُ فِيْهِ اْلحُزْنُ. قَالَتْ عَائِشَةُ: وَ اَنَا اَطَّلِعُ مِنْ صَائِرِ اْلبَابِ تَعْنِى مِنْ شَقّ اْلبَابِ فَاَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ: اَيْ رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّ نِسَاءَ جَعْفَرٍ قَالَ وَ ذَكَرَ بُكَاءَهُنَّ. فَاَمَرَهُ اَنْ يَنْهَاهُنَّ. قَالَ: فَذَهَبَ الرَّجُلُ ثُمَّ اَتَى فَقَالَ: قَدْ نَهَيْتُهُنَّ وَ ذَكَرَ اَنَّهُ لَمْ يُطِعْنَهُ. قَالَ: فَاَمَرَ اَيْضًا فَذَهَبَ ثُمَّ اَتَى فَقَالَ: وَ اللهِ لَقَدْ غَلَبْنَنَا فَزَعَمَتْ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: فَاحْثُ فِى اَفْوَاهِهِنَّ مِنَ التُّرَابِ. قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ اَرْغَمَ اللهُ اَنْفَكَ، فَوَ اللهِ مَا اَنْتَ تَفْعَلُ وَ مَا تَرَكْتَ رَسُوْلَ اللهِ ص مِنَ الْعَنَاءِ. البخارى 5: 87
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Ketika telah sampai berita terbunuhnya Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib dan ‘Abdullah bin Rawahah RA, Rasulullah SAW duduk. Pada (wajah) beliau terlihat susah. ‘Aisyah berkata : Saya melihat dari lubang pintu yakni celah-celahnya, lalu seorang laki-laki datang kepada beliau dan berkata, “Ya Rasulullah, sungguh para wanita Ja’far (menangis)”. Laki-laki itu menuturkan tangisan mereka, lalu beliau menyuruhnya agar mencegah mereka. Rawi berkata : Laki-laki itu pergi, kemudian datang dan berkata, “Saya telah mencegah mereka”. Dan ia menuturkan bahwa mereka tidak menthaatinya. Rawi berkata : Lalu beliau menyuruhnya lagi, maka laki-laki itu pergi, kemudian datang lagi dan berkata, “Demi Allah, mereka benar-benar telah mengalahkan kami”. ‘Aisyah menduga bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jejalkanlah tanah pada mulut mereka”. ‘Aisyah berkata : Lalu saya berkata (kepada orang laki-laki tersebut), “Semoga Allah menghinakan hidungmu, demi Allah, kamu tidak melakukan (perintah beliau) dan kamu tidak meringankan Rasulullah SAW dari kelelahan”. [HR. Bukhari 5 : 87]
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ: لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرٍ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِصْنَعُوْا ِلآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا. فَقَدْ اَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ، اَوْ اَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ. ابن ماجه 1: 514
Dari ‘Abdullah bin Ja’far, ia berkata : Ketika datang khabar kematian Ja’far , Rasulullah SAW bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena sungguh telah datang kepada mereka sesuatu yang menyusahkan mereka atau perkara yang menyusahkan mereka”. [HR Ibnu Majah 1 : 514]
عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّهُ وَقَفَ عَلَى جَعْفَرٍ يَوْمَئِذٍ وَ هُوَ قَتِيْلٌ فَعَدَدْتُ بِهِ خَمْسِيْنَ بَيْنَ طَعْنَةٍ وَ ضَرْبَةٍ لَيْسَ مِنْهَا شَيْءٌ فِى دُبُرِهِ يَعْنِى فِى ظَهْرِه. البخارى 5: 86
Dari Ibnu ‘Umar bahwasanya pada hari itu ia berdiri atas (jenazah) Ja’far di saat ia terbunuh. Lalu saya menghitung ada limapuluh luka tusukan dan pukulan pedang pada (tubuh)nya. Dari semua itu tidak sedikitpun yang mengenai belakangnya, yakni punggungnya. [HR. Bukhari 5 : 86]
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رض قَالَ: اَمَّرَ رَسُوْلُ اللهِ ص فِى غَزْوَةِ مُؤْتَةَ زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنْ قُتِلَ زَيْدٌ فَجَعْفَرٌ وَ اِنْ قُتِلَ جَعْفَرٌ فَعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ. قَالَ عَبْدُ اللهِ: كُنْتُ فِيْهِمْ فِى تِلْكَ اْلغَزْوَةِ فَالْتَمَسْنَا جَعْفَرَ بْنَ اَبِى طَالِبٍ فَوَجَدْنَاهُ فِى اْلقَتْلَى وَ وَجَدْنَا مَا فِى جَسَدِهِ بِضْعًا وَ تِسْعِيْنَ مِنْ طَعْنَةٍ وَ رَمْيَةٍ. البخارى 5: 86
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA, ia berkata : Rasulullah SAW mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pada perang Mu’tah, lalu Rasulullah bersabda, “Jika Zaid terbunuh, maka (digantikan) oleh Ja’far. Dan jika Ja’far terbunuh, maka (digantikan) oleh ‘Abdullah bin Rawahah”. ‘Abdullah (bin ‘Umar) berkata, “Saya berada diantara mereka pada peperangan itu. Kami mencari Ja’far bin Abu Thalib, lalu kami menemukan dia berada diantara orang-orang yang terbunuh, dan saya menemukan pada jasadnya terdapat sembilan puluh lebih luka tusukan dan lemparan (anak panah)”. [HR. Bukhari 5 : 86]
عَنْ عَامِرٍ قَالَ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ اِذَا حَيَّا ابْنَ جَعْفَرٍ قَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا ابْنَ ذِى اْلجَنَاحَيْنِ. البخارى 5: 87
Dari ‘Amir, ia berkata : Apabila Ibnu ‘Umar mengucapkan salam kepada putra Ja’far, ia berkata, “Assalaamu ‘alaika, wahai putra orang yang mempunyai dua sayap”. [HR. Bukhari 5 : 87]

Riwayat tentang kegigihan Khalid bin Walid :
عَنْ خَالِدِ بْنِ اْلوَلِيْدِ يَقُوْلُ: لَقَدِ انْقَطَعَتْ فِى يَدِى يَوْمَ مُؤْتَةَ تِسْعَةُ اَسْيَافٍ، فَمَا بَقِيَ فِى يَدِى اِلاَّ صَفِيْحَةٌ يَمَانِيَةٌ. البخارى 5: 87
Dari Khalid bin Walid, ia berkata, “Sesungguhnya pada hari perang Mu’tah ada sembilan buah pedang terputus di tanganku. Maka tidak ada yang tersisa di tanganku kecuali sebuah pedang lebar dari Yaman”. [HR. Bukhari 5 : 87

sumber : http://www.mta.or.id/brosur_reader/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s